Ku ucapkan seluruh cinta dan rinduku untukmu, apa kabarmu, Sahabat? Apa
kabar keluargamu di Jogja ? Semoga kamu dan keluargamu tetap dalam
keadaan baik.
Selamat datang di tahun yang baru. Semoga langkahmu tahun ini lebih indah dari
tahun kemarin. Lebih cerah dan lebih berwarna. Sedikit pesan untukmu sahabat.
Tetap simpan kenanganmu tahun lalu, dan jadikan dia sebagai pelita yang akan
menerangi lorong gelapmu jika kamu sedang tersesat di dalamnya. Fiola, sahabatku. Maafkan
aku jika aku membuatmu menunggu. Bahkan terlalu menunggu. Sebenarnya suratmu
sudah digenggamanku tiga bulan lalu, tepatnya tiga hari setelah tanggal
pengiriman suratmu. Balasan untuk suratmu tiga bulan lalu memang sengaja
aku tunda, karena aku ingin melakukan sesuatu, yang mungkin bisa menjadi
jawaban dari pertanyaanmu tempo lalu.. Dan untuk menenangkan hati ini, karena
rasa bersalah terus menghantui. Seakan merajamku dalam setiap dentang memori
ingatanku. Aku memohon maafmu untuk yang kali kesekian. Maaf. Maafkan aku.
Jujur, Fiola. Aku kesulitan dengan pertanyaamu tempo lalu. Bukan karena seperti
waktu sekolah dulu, kamu selalu berpikir logis dan aku selalu mengambil sikap
santai. Selalu berpikir mudah untuk setiap hal. Untuk kali ini, aku beri
nuansa berbeda untukmu. Aku akan ceritakan kepadamu apa yang aku lakukan dalam
tiga bulan terakhir ini. sampai aku menemukan jawabannya dan membalas suratmu.
baik, Fiola. Aku akan mulai bercerita.
Senja 27 Oktober 2012, waktu itu suram. Entah mengapa, senja yang seharusnya
bisa menghibur hati seseorang, dikala penat dengan semua hal. Kini malah
menyelimuti wajahnya rapat dengan selimut hitam. Tak kuhiraukan. Tapi
sebenarnya keadaan ini seakan menyekikku. Tahukah kamu, Fiola. Pekerjaan kantor
dan tumpukan berita membuatku muak.
Aku berjalan terus dengan langkah gontai, terus dan terus
berjalan. Takku hiraukan kemana tujuanku hingga aku sampai di kampung Pulo. Aku
tahu itu kampung Pulo karane plakat besar yang ku temui tertera begitu.
Tepatnya bertuliskan SELAMAT DATANG DI KAMPUNG PULO.
Aku membelokkan langkahku dan aku mulai masuk ke dalam
kampung itu. Hening. Tapi terasa begitu sejahtera. Perasaan nyaman mulai
merayapi tubuhku. Terasa begitu hangat. aku mulai memasuki kampung ini lebih
dalam. Terlihat berjajat rumah-rumah sederhana, becak-becak terparkir hampir
disetiap halaman rumah, dan satu yang membuatku heran cericit ayam, kokok ayam
betina yang hampir 85% mendominasi suara di kampung ini, selain cekikikan anak
kecil ataupun bunyi televisi. lagi-lagi rasa penasaran merayapi tubuhku,
sekarang hampir menguasai sebagian otakku. Menyuruhku untuk lebih dalam
mengetahui isi kampung ini.
“ Mas,cari siapa mas.”
Seorang laki-laki tua berkumis putih tipis, berambut
putih pula, menggenakan baju kokoh warna telur asin, sarung kotak-kotak warna
ungu khas merk atlas, berpeci hitam dan membawa shajada yang dikalungkan di
leher, menegurku. Dialeknya kental dengan logat khas orang Madura.
“Mas, cari siapa mas.”
Orang itu menegurku lagi, intonasinya agak keras tapi
tetap dengan nada sopan.
“Tidak pak, tidak mencari siapa-siapa, saya hanya ingin
mencari ketenangan.” Jawabku sekenanya. Kemudian bapak itu, yang kuketahui
bernama Alimin, setelah kami berkanalan tentunya. Mengajakku ke Masjid,
kemudian mampir ke rumahnya. Nyaman. Beliau menceritakan perihal kampung ini
kepadaku. Perihal mengapa waktu senja kampung ini terlihat sepi dan tentunya
cericit ayam itu,
Aku mulai tertarik dengan cerita Pak Min. Akrabnya
dipanggil demikian. Mengenai kita belajar dari ayam. Lucu tapi membawa ke alam
penasaran dan semakin dalam. Penasaran, Oleh karena itu aku berniat tinggal
beberapa minggu di rumah pak Min, dan beliau mengizinkan. Katanya “Tentu
silakan, anak muda memang butuh pelajaran.”
***
Dua hari aku menginap di rumah pak Min. Belum ada apa-apa yang ku dapat, tetap
seperti biasa. Menurutku apa istimewanya ayam. Mereka hanya makan, berkokok,
yang masih kecil hanya menyericit tidak jelas dan yang paling aku benci mereka
selalu me-nimbulkan bau busuk dari kotoran maupun bau dari badan mereka
sendiri, “Apa yang istimewa” pikirku.
Hari-hari berikutnya tetap sama. Aku pergi memberi makan
ayam-ayam itu. Memanen telurnya. Membersihkan kandangnya. Dan ... Nihil. Tetap
belum ada hal istimewa yang ku dapatkan. Terkadang aku berpikir, mungkin pak
Min demikian karena keseringan bergaul dengan ayam. Aku terkekeh bila ingat
kata-kata beliau “Kita bisa belajar
tentang hidup dari ayam”
Untuk memuaskan rasa penasaranku yang belum kunjung
terungkap. Aku mulai mencoba hal baru yang menurutku mungkin akan sedikit
bermakna. Pertama aku mulai memandangi ayam-ayam itu, menelusuri setiap jengkal
kandang mereka. Me-ndengarkan cericit dan kokokan mereka. Aku juga
memperhatikan telur-telur mereka menggelinding dari tempat kandang menuju
tempat telur. Hal pertama ini aku lakukan hampir dua minggu dan berhasil. Aku
mulai menemukan satu ketenangan baru hal sederhana yang mungkin semakin sulit
ditemukan dalam kota metropolitan semacam Surabaya.
Hal kedua yang ku lakukan setelah hal pertama, aku mulai
memelihara ayam-ayam itu di halaman rumahku, tepetnya di kebun belakang bekas
kebun tomat, milik kedua orang tuaku yang tak lagi dipakai. bukan karena
apa-apa sebenarnya, tetapi aku punya rencana sendiri. Pertama untuk usaha
sampingan, selain menjadi seorang wartawan. Kedua karena aku mulai mencintai
ayam-ayam itu.
Aku mulai membangun kandang untuk mereka. Sengaja ku buat
berbeda dengan milik pak Min. Kandang ayam-ayamku, sengaja ku buat bertingkat.
Jumlah kandang mereka enam buah dan semuanya bertingkat. Supaya muat ayam
banyak dan hasil panen telurnya juga banyak. Tapi itu bukan tujuan utamaku.
Sebulan berjalan. dan aku mulai menikmati hasilnya. Puas?
Belum. Aku malah bingung sekarang. Rasa penasaranku masih belum terungkap.
Masih samar. Belum ada pelajaran yang bermakna dan setidaknya belum ku temukan
jawaban dari pertanyaanmu, Fiola. Aku mencoba sabar dan tetap telaten. Waktu
libur kerja ku gunakan untuk menemui mereka ... ya tentu saja, ayam-ayamku.
Aku mulai melakukan hal pertama yang ku lakukan di rumah
pak Min dulu. Aku telusuri kandang-kandang ayamku, ku amati setiap jengkal
kandang sekaligus ayam-ayam itu, dan aku baru menyadari ada perbedaan dari
ayam-ayamku.
Aku coba meneliti lagi ternyata benar. Ada perbedaan.
Pertama, akan ku jelaskan mengenai ayam-ayamku yang kandangnya dekat dengan
rumahku. Ayam-ayamku tumbuh dengan sehat, badan mereka gemuk-gemuk
menggemaskan, bulu-bulu mereka juga indah dan bersih. Tetapi jika moral mereka
aku gambarkan seperti manusia, mereka adalah manusia-manusia yang bermoral
bejat. Betapa tidak, ayam-ayamku ini suka berkelahi, mengambil makanan milik
teman sendiri. Memakan makanan sekenyang-keyang perut mereka, seperti aku tak
akan lagi memberi mereka makan. Mereka berkomplot sana-berkomplot sini. Tetapi
pada hakikatnya hanya ingin mencari kepuasan pribadi. Yang mereka pikirkan
hanya mengemukkan badan dan membelendingkan perut-perut mereka saja, tanpa
memperdulikan kawan sesama ayam yang kelapran. Mereka seakan berlomba-lomba
mengupul-ngupul makanan. Seakan-akan besok paceklik atau krisis pangan
berkepanjangan. Selain itu, yang membuatku tak habis pikir, hasil panen yang ku
dapat juga bisa ku bilang sangat dibawa rata-rata normal padahal jika dilihat
dari postur tubuh dan keadaan mereka, ini sangat tidak masuk akal.
Yang kedua, ayam-ayamku yang kandangnya jauh dari
rumahku. Mereka hidup dengan damai, berbagi makanan pada ayam lain, sangat
jarang kutemui mereka berkelahi. Hanya saja yang membuat miris hatiku. Kondisi
mereka sangat memprihatinkan, bulu-bulu mereka kumal terkena kotoran ayam-ayam
lain dari kandang atas mereka. Dan saat aku pegang tubuhnya, rasa bersalah
menjerembab masuk dalam hati ini. “apakah
aku telah tidak adil memperlakukan mereka?” satu pertanyaan tiba-tiba
muncul dalam hati ini. Tahukah kamu, Fiola? Tubuh mereka sangat kurus, bahkan
sebagian dari mereka mengalami busung lapar. Dan kebanyakan dari mereka hanya
tertutup oleh bulu-bulu kumal tebal. Sedangkan tubuh mereka hanya tinggal
tulang terbungkus kulit saja. Bulu-bulu kumal itu hanya sebagai penutup tubuh
mereka sehingga terlihat agak sedikit gemuk. Tapi yang aku heran hasil panen
telur mereka cukup tinggi dari pada ayam-ayamku yang kandangnya dekat dengan
rumahku tadi.
Aku mulai berpikir keras dengan adanya kejadian ini.
Menurutku, selama ini aku telah memberikan makanan dengan takaran yang sama,
minum juga sama. Bahkan pemberian vitamin juga ku berikan dengan skala waktu
yang sama. Apa yang salah ? mengapa semua
ini bisa terjadi? Berbagai pertanyaan-pertanyaan mulai merasuki pikiranku,
hingga satu kata muncul tiba-tiba diantara pertanyaa-pertanyaan tadi. “Kita bisa belajar tentang hidup dari ayam”
Aku mulai memperhatikan ayam-ayamku lagi ternyata memang
begitu persoalannya. Sama. Ayam-ayamku yang kandangnya dekat dengan rumahku
memang sedikit lebihku perhatikan ... ya , karena mereka dekat denganku
sehingga aku mudah memantau mereka. Tetapi apa akibatnya, mereka seakan menjadi
makhluk yang malas, hanya ingin di perhatikan. Tidak mau melakukan hal apa-apa
bahkan untuk kawin pun mereka enggan. Itulah mengapa panen telur mereka menuru.
Satu lagi. Karena mereka dekat denganku mereka seakan mendapatkan apa-apa
dengan mudah, karena aku memang selalu tahu apa yang sedang mereka butuhkan...
ya sekali lagi karena mereka dekat denganku. Yang salah di sini. Karena
kumudahan itulah mereka menjadi congkak dan bertindak semau mereka. Ingin
menjadi yang lebih dari yang lain. Entah itu jalan yang diambil negatif atau
positif. Mereka sudah tidak peduli.
Sedangkan ayam-ayamku yang jauh dariku. Mereka menerima
setiap pemberianku dengan rasa syukur. Karena mereka tahu, aku tak begitu
memperhatikan mereka... karena mereka jauh denganku. Mereka menjadi ayam-ayam
yang toleran, karena mereka merasakan. Bagaimana sulitnya jika apa yang di
butuhkan sudah benar-benar tidak ada. Mereka menjadi ayam-ayam yang rajin.
Walau hanya rajin kawin. Tetapi dengan demikian mereka tetap memberikan hasil
panen telur tetap maksimal seperti biasa ... ya, setidaknya dengan begitu
mereka akan tetap diakui menjadi ayam Bung Icus. Walau sebenarnya mereka sangat
kesulitan dengan kondisi yang demikian. Sangat memprihatinkan hidup jauh dari
empunya.
Kini aku mengerti maksud pak Min, Fiola. Setidaknya ini
juga jawaban dari pertanyaan dalam suratmu tiga bulan lalu.
Terus kirimi aku surat, Fiola. Buat hidupku penuh makna
seperti saat aku bersamamu dulu.
Yang selalu menyayangimu
Icus Zulfikar Abdillah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar