Selasa, 24 Juni 2014

Ayam-Ayamku Busung Lapar

Salam super istimewa untukmu, Fiola.
            Ku ucapkan seluruh cinta dan rinduku untukmu, apa kabarmu, Sahabat? Apa kabar   keluargamu di Jogja ? Semoga kamu dan keluargamu tetap dalam keadaan baik.
            Selamat datang di tahun yang baru. Semoga langkahmu tahun ini lebih indah dari tahun kemarin. Lebih cerah dan lebih berwarna. Sedikit pesan untukmu sahabat. Tetap simpan kenanganmu tahun lalu, dan jadikan dia sebagai pelita yang akan menerangi lorong gelapmu jika kamu sedang tersesat di dalamnya. Fiola, sahabatku. Maafkan aku jika aku membuatmu menunggu. Bahkan terlalu menunggu. Sebenarnya suratmu sudah digenggamanku tiga bulan lalu, tepatnya tiga hari setelah tanggal pengiriman suratmu.  Balasan untuk suratmu tiga bulan lalu memang sengaja aku tunda, karena aku ingin melakukan sesuatu, yang mungkin bisa menjadi jawaban dari pertanyaanmu tempo lalu.. Dan untuk menenangkan hati ini, karena rasa bersalah terus menghantui. Seakan merajamku dalam setiap dentang memori ingatanku. Aku memohon maafmu untuk yang kali kesekian. Maaf. Maafkan aku.
            Jujur, Fiola. Aku kesulitan dengan pertanyaamu tempo lalu. Bukan karena seperti waktu sekolah dulu, kamu selalu berpikir logis dan aku selalu mengambil sikap santai. Selalu berpikir mudah untuk setiap hal.  Untuk kali ini, aku beri nuansa berbeda untukmu. Aku akan ceritakan kepadamu apa yang aku lakukan dalam tiga bulan terakhir ini. sampai aku menemukan jawabannya dan membalas suratmu.
            baik, Fiola. Aku akan mulai bercerita.
            Senja 27 Oktober 2012, waktu itu suram. Entah mengapa, senja yang seharusnya bisa menghibur hati seseorang, dikala penat dengan semua hal. Kini malah menyelimuti wajahnya rapat dengan selimut hitam. Tak kuhiraukan. Tapi sebenarnya keadaan ini seakan menyekikku. Tahukah kamu, Fiola. Pekerjaan kantor dan tumpukan berita membuatku muak.
Aku berjalan terus dengan langkah gontai, terus dan terus berjalan. Takku hiraukan kemana tujuanku hingga aku sampai di kampung Pulo. Aku tahu itu kampung Pulo karane plakat besar yang ku temui tertera begitu. Tepatnya bertuliskan SELAMAT DATANG DI KAMPUNG PULO.
Aku membelokkan langkahku dan aku mulai masuk ke dalam kampung itu. Hening. Tapi terasa begitu sejahtera. Perasaan nyaman mulai merayapi tubuhku. Terasa begitu hangat. aku mulai memasuki kampung ini lebih dalam. Terlihat berjajat rumah-rumah sederhana, becak-becak terparkir hampir disetiap halaman rumah, dan satu yang membuatku heran cericit ayam, kokok ayam betina yang hampir 85% mendominasi suara di kampung ini, selain cekikikan anak kecil ataupun bunyi televisi. lagi-lagi rasa penasaran merayapi tubuhku, sekarang hampir menguasai sebagian otakku. Menyuruhku untuk lebih dalam mengetahui isi kampung ini.
“ Mas,cari siapa mas.”
Seorang laki-laki tua berkumis putih tipis, berambut putih pula, menggenakan baju kokoh warna telur asin, sarung kotak-kotak warna ungu khas merk atlas, berpeci hitam dan membawa shajada yang dikalungkan di leher, menegurku. Dialeknya kental dengan logat khas orang Madura.
“Mas, cari siapa mas.”
Orang itu menegurku lagi, intonasinya agak keras tapi tetap dengan nada sopan.
“Tidak pak, tidak mencari siapa-siapa, saya hanya ingin mencari ketenangan.” Jawabku sekenanya. Kemudian bapak itu, yang kuketahui bernama Alimin, setelah kami berkanalan tentunya. Mengajakku ke Masjid, kemudian mampir ke rumahnya. Nyaman. Beliau menceritakan perihal kampung ini kepadaku. Perihal mengapa waktu senja kampung ini terlihat sepi dan tentunya cericit ayam itu,
Aku mulai tertarik dengan cerita Pak Min. Akrabnya dipanggil demikian. Mengenai kita belajar dari ayam. Lucu tapi membawa ke alam penasaran dan semakin dalam. Penasaran, Oleh karena itu aku berniat tinggal beberapa minggu di rumah pak Min, dan beliau mengizinkan. Katanya “Tentu silakan, anak muda memang butuh pelajaran.”
***

            Dua hari aku menginap di rumah pak Min. Belum ada apa-apa yang ku dapat, tetap seperti biasa. Menurutku apa istimewanya ayam. Mereka hanya makan, berkokok, yang masih kecil hanya menyericit tidak jelas dan yang paling aku benci mereka selalu me-nimbulkan bau busuk dari kotoran maupun bau dari badan mereka sendiri, “Apa yang istimewa” pikirku.
Hari-hari berikutnya tetap sama. Aku pergi memberi makan ayam-ayam itu. Memanen telurnya. Membersihkan kandangnya. Dan ... Nihil. Tetap belum ada hal istimewa yang ku dapatkan. Terkadang aku berpikir, mungkin pak Min demikian karena keseringan bergaul dengan ayam. Aku terkekeh bila ingat kata-kata beliau “Kita bisa belajar tentang hidup dari ayam”
Untuk memuaskan rasa penasaranku yang belum kunjung terungkap. Aku mulai mencoba hal baru yang menurutku mungkin akan sedikit bermakna. Pertama aku mulai memandangi ayam-ayam itu, menelusuri setiap jengkal kandang mereka. Me-ndengarkan cericit dan kokokan mereka. Aku juga memperhatikan telur-telur mereka menggelinding dari tempat kandang menuju tempat telur. Hal pertama ini aku lakukan hampir dua minggu dan berhasil. Aku mulai menemukan satu ketenangan baru hal sederhana yang mungkin semakin sulit ditemukan dalam kota metropolitan semacam Surabaya.
Hal kedua yang ku lakukan setelah hal pertama, aku mulai memelihara ayam-ayam itu di halaman rumahku, tepetnya di kebun belakang bekas kebun tomat, milik kedua orang tuaku yang tak lagi dipakai. bukan karena apa-apa sebenarnya, tetapi aku punya rencana sendiri. Pertama untuk usaha sampingan, selain menjadi seorang wartawan. Kedua karena aku mulai mencintai ayam-ayam itu.
Aku mulai membangun kandang untuk mereka. Sengaja ku buat berbeda dengan milik pak Min. Kandang ayam-ayamku, sengaja ku buat bertingkat. Jumlah kandang mereka enam buah dan semuanya bertingkat. Supaya muat ayam banyak dan hasil panen telurnya juga banyak. Tapi itu bukan tujuan utamaku.
Sebulan berjalan. dan aku mulai menikmati hasilnya. Puas? Belum. Aku malah bingung sekarang. Rasa penasaranku masih belum terungkap. Masih samar. Belum ada pelajaran yang bermakna dan setidaknya belum ku temukan jawaban dari pertanyaanmu, Fiola. Aku mencoba sabar dan tetap telaten. Waktu libur kerja ku gunakan untuk menemui mereka ... ya tentu saja, ayam-ayamku.
Aku mulai melakukan hal pertama yang ku lakukan di rumah pak Min dulu. Aku telusuri kandang-kandang ayamku, ku amati setiap jengkal kandang sekaligus ayam-ayam itu, dan aku baru menyadari ada perbedaan dari ayam-ayamku.
Aku coba meneliti lagi ternyata benar. Ada perbedaan. Pertama, akan ku jelaskan mengenai ayam-ayamku yang kandangnya dekat dengan rumahku. Ayam-ayamku tumbuh dengan  sehat, badan mereka gemuk-gemuk menggemaskan, bulu-bulu mereka juga indah dan bersih. Tetapi jika moral mereka aku gambarkan seperti manusia, mereka adalah manusia-manusia yang bermoral bejat. Betapa tidak, ayam-ayamku ini suka berkelahi, mengambil makanan milik teman sendiri. Memakan makanan sekenyang-keyang perut mereka, seperti aku tak akan lagi memberi mereka makan. Mereka berkomplot sana-berkomplot sini. Tetapi pada hakikatnya hanya ingin mencari kepuasan pribadi. Yang mereka pikirkan hanya mengemukkan badan dan membelendingkan perut-perut mereka saja, tanpa memperdulikan kawan sesama ayam yang kelapran. Mereka seakan berlomba-lomba mengupul-ngupul makanan. Seakan-akan besok paceklik atau krisis pangan berkepanjangan. Selain itu, yang membuatku tak habis pikir, hasil panen yang ku dapat juga bisa ku bilang sangat dibawa rata-rata normal padahal jika dilihat dari postur tubuh dan keadaan mereka, ini sangat tidak masuk akal.
Yang kedua, ayam-ayamku yang kandangnya jauh dari rumahku. Mereka hidup dengan damai, berbagi makanan pada ayam lain, sangat jarang kutemui mereka berkelahi. Hanya saja yang membuat miris hatiku. Kondisi mereka sangat memprihatinkan, bulu-bulu mereka kumal terkena kotoran ayam-ayam lain dari kandang atas mereka. Dan saat aku pegang tubuhnya, rasa bersalah menjerembab masuk dalam hati ini. “apakah aku telah tidak adil memperlakukan mereka?” satu pertanyaan tiba-tiba muncul dalam hati ini. Tahukah kamu, Fiola? Tubuh mereka sangat kurus, bahkan sebagian dari mereka mengalami busung lapar. Dan kebanyakan dari mereka hanya tertutup oleh bulu-bulu kumal tebal. Sedangkan tubuh mereka hanya tinggal tulang terbungkus kulit saja. Bulu-bulu kumal itu hanya sebagai penutup tubuh mereka sehingga terlihat agak sedikit gemuk. Tapi yang aku heran hasil panen telur mereka cukup tinggi dari pada ayam-ayamku yang kandangnya dekat dengan rumahku tadi.
Aku mulai berpikir keras dengan adanya kejadian ini. Menurutku, selama ini aku telah memberikan makanan dengan takaran yang sama, minum juga sama. Bahkan pemberian vitamin juga ku berikan dengan skala waktu yang sama. Apa yang salah ? mengapa semua ini bisa terjadi? Berbagai pertanyaan-pertanyaan mulai merasuki pikiranku, hingga satu kata muncul tiba-tiba diantara pertanyaa-pertanyaan tadi. “Kita bisa belajar tentang hidup dari ayam”
Aku mulai memperhatikan ayam-ayamku lagi ternyata memang begitu persoalannya. Sama. Ayam-ayamku yang kandangnya dekat dengan rumahku memang sedikit lebihku perhatikan ... ya , karena mereka dekat denganku sehingga aku mudah memantau mereka. Tetapi apa akibatnya, mereka seakan menjadi makhluk yang malas, hanya ingin di perhatikan. Tidak mau melakukan hal apa-apa bahkan untuk kawin pun mereka enggan. Itulah mengapa panen telur mereka menuru. Satu lagi. Karena mereka dekat denganku mereka seakan mendapatkan apa-apa dengan mudah, karena aku memang selalu tahu apa yang sedang mereka butuhkan... ya sekali lagi karena mereka dekat denganku. Yang salah di sini. Karena kumudahan itulah mereka menjadi congkak dan bertindak semau mereka. Ingin menjadi yang lebih dari yang lain. Entah itu jalan yang diambil negatif atau positif. Mereka sudah tidak peduli.
Sedangkan ayam-ayamku yang jauh dariku. Mereka menerima setiap pemberianku dengan rasa  syukur. Karena mereka tahu, aku tak begitu memperhatikan mereka... karena mereka jauh denganku. Mereka menjadi ayam-ayam yang toleran, karena mereka merasakan. Bagaimana sulitnya jika apa yang di butuhkan sudah benar-benar tidak ada. Mereka menjadi ayam-ayam yang rajin. Walau hanya rajin kawin. Tetapi dengan demikian mereka tetap memberikan hasil panen telur tetap maksimal seperti biasa ... ya, setidaknya dengan begitu mereka akan tetap diakui menjadi ayam Bung Icus. Walau sebenarnya mereka sangat kesulitan dengan kondisi yang demikian. Sangat memprihatinkan hidup jauh dari empunya.
Kini aku mengerti maksud pak Min, Fiola. Setidaknya ini juga jawaban dari pertanyaan dalam suratmu tiga bulan lalu.
Terus kirimi aku surat, Fiola. Buat hidupku penuh makna seperti saat aku bersamamu dulu.


Yang selalu menyayangimu


Icus Zulfikar Abdillah



Tidak ada komentar:

Posting Komentar